Jumat, 09 September 2011

My Name Is Khan

Film keempat garapan Karan Johar ini mengisahkan tentang Rizwan Khan (Shahrukh Khan) yang menderita Asperger’s syndrome. Dia tidak seperti orang-orang kebanyakan, karena sikapnya yang sedikit aneh seperti terus membungkuk, berjalan setengah melompat, tak menatap mata lawan bicaranya, bergumam menirukan suara-suara orang lain, takut pada tempat-tempat yang baru, warna kuning, dan kebisingan, dia juga tidak bisa mengekspresikan perasaannya, dan selalu menggenggam tiga butir kerikil. Meskipun demikian dia sangat jenius. Di scene awal film ini, tampak Rizwan sedang mengetik, mencari data-data tentang presiden Amerika, George W. Bush, melalui internet. Dia menjadawalkan perjalanannya sesuai perjalan George W. Bush. Namun saat di bandara San Francisco dia dicurigai sebagai teroris dan terlambat naik pesawat.
Dia menuliskan perasaan dan segala yang dialaminya pada buku catatan pemberian ibunya. Adanya flash back saat scene itu membuat penonton mengenal Rizwan Khan lebih dekat. Dia yang sejak kecil menderita syndrome seperti anak autis membuatnya dianiaya di sekolah. Ibunya yang diperankan oleh Zarina WahabJimmy Shergill) kurang diperhatikan sehingga dia cemburu dan hubungannya dengan Rizwan menjadi kurang baik. Setelah mereka dewasa, adiknya memutuskan mengambil beasiswa ke Amerika sedangkan Rizwan tinggal bersama ibunya di Mumbai, India. tidak putus asa dan memohon seseorang untuk menjadi gurunya. Rizwan menguasai bahasa Inggris dan dapat memperbaiki alat-alat yang rusak. Hal tersebut membuat ibunya semakin bangga dan mencurahkan seluruh perhatian padanya. Padahal Rizwan memiliki seorang adik bernama Zakir yang juga sangat pintar, tapi Zakir (
Terdapat scene saat Rizwan menguping percakapan orang-orang di depan rumahnya saat terjadi bentrok antara orang hindu dan muslim yang terjadi di Mumbai. Mereka mengucapkan kata-kata kasar dan Rizwan mengikutinya. Ibunya terkejut mendengar ucapan Rizwan yang terus berulang, lalu dia mengajarinya tentang perbedan yang ada di dunia bahwa tak ada bedanya orang hindu dan muslim, karena di dunia hanya ada dua macam orang yaitu orang baik dan orang jahat.
Perjalanan Rizwan berlanjut menggunakan bis dan flash back saat Ibunya meninggal dan dia ikut Zakir ke Amerika. Dia tinggal di San Francisco dan membantu pekerjaan Zakir dengan mempromosikan produk kecantikan. Rizwan mencoba semua produknya dan mengingat khasiat produknya. Kemudian dia mempromosikannya dengan sangat jujur. Saat akan menyebrang jalan dia melihat banyak warna kuning di sekitarnya, membuatnya ketakutan dan hampir tertabrak kereta listrik. Semua orang kesal dan berteriak, membuat Rizwan semakin panic, tapi seseorang menyuruh mereka semua tenang dan meninggalkannya. Disitulah awal pertemuannya dengan Mandira (Kajol), seorang janda muda yang memiliki seorang anak bernama Sameer (Yuvaan Makaar). Rizwan menyukainya dan selalu datang ke salon tempat Mandira bekerja.
Istri Zakir, Haseena (Sonya Jehan), adalah seorang dosen psikologis dan dia yang pertama kali mendiagnosis Rizwan menderita Asperger’s syndrome. Dia memberikan Rizwan handy came agar dia tidak takut pada tempat-tempat baru. Handycame itu tidak hanya berguna untuk mengatasi ketakutannya, tapi dia gunakan juga untuk merekam Mandira saat sedang bekerja. Rizwan meminta Mandira memotong rambutnya dan saat itu dia mengatakan, “Marry me”. Mandira terkejut dan menganggap Rizwan hanya bercanda, tapi dia terus mengatakannya berulang-ulang sampai Mandira kesal dan memberikan syarat padanya untuk menemukan satu tempat di San Francisco yang belum pernah dia kunjungi.
Sameer (Sam) mulai menyukai Rizwan saat mereka pergi ke museum dan Rizwan berhasil memenangkan kuis dengan menebak nama binatang sebanyak-banyaknya. Kemudian Rizwan bersama Madira dan Sam mengunjungi tempat-tempat yang dia janjikan pada Madira, namun semua tempat yang mereka kunjungi sudah pernah Madira kunjungi sebelumnya. Sampai suatu hari Rizwan mengajak Madira keluar dan melihat kota San Francisco dari atas bukit yang tertutup awan lalu pelan-pelan awannya menghilang menunjukan kemegahan kota. Madira tersentuh dan mau menikah dengan Rizwan. Ekspresi Rizwan saat itu tampak dipaksakan dan menjadi sangat menggelikan, sepertinya Shahrukh Khan berusaha keras menahan luapan kegembirannya mengingat perannya sebagai penderita Asperger’s syndrome.
Madira dan Rizwan menikah tanpa persetujuan Zakir. Dia hanya ingin adiknya menikah dengan orang beragama Islam, sedangkan Madira beragama Hindu. Meskipun Zakir tidak setuju, pernikahan tetap berlangsung dan Haseena datang merestui mereka. Mereka tinggal di kota Banville, bertetangga dengan keluarga Garrick. Mereka hidup harmonis, Madira membuka salon sendiri dan Rizwan berhasil menjadi ayah yang baik sekaligus teman terbaik bagi Sam Khan (membawa nama belakang ayahnya).
Namun serangan WTC pada 11 September yang berkaitan dengan perang Afghanistan dan agama Islam merubah segalanya. Rizwan dan Madira mengunjungi keluarga Garrick yang kehilangan anggota keluarganya akibat serangan WTC. Rizwan menggunakan baju koko serba putih dan membaca surat Al-Fatihah diantara orang-orang yang membawa lilin yang beragama Kristen. Orang-orang disekitarnya menghindar dan memnadang sinis kearahnya. Reese anak dari keluarga Garrick, yang juga sahabat Sam, juga menjauhi Sam. Di sekolah Sam dikucilkan dan dikerjai teman-temannya karena memiliki nama belakang Khan.
Rizwan memberikan Sam sepatu, namun Sam sedikit kesal karena kejadian di sekolahnya. Tak lama kemudian dia meminta sepatunya dan meminta maaf karena telah membentak. Keesokan harinya dia menggunakan sepatu itu. Dia menemui Reese memintanya berteman kembali, tapi terjadi perdebatan diantara mereka di lapangan sepak bola. Hal itu menarik perhatian siswa senior dan ikut menghajar Sam. Sam tidak terima dirinya terus disalahkan karena kejadian 11 September itu. Reese mencoba melerai tapi anak yang lain memegangnya. Sam menendang bola dan mengenai kepala salah satunya. Dan anak itu menendang balik tepat ke jantung Sam. Hal itu menyebabkan Sam meninggal.
Madira sangat tertekan dia menyesal karena menikahi seseorang yang memiliki nama Khan. Dia juga terus mencari tahu siapa yang membunuh anaknya. Sedangkan Reese terus menutup mulut karena diancam siswa senior. Madira meminta Rizwan pergi. Saat adegan ini Kajol beracting optimal, dia meluapkan kesedihannya di tengah lapangan tempat Sam meninggal. Dia berteriak pada Rizwan dan merasa lebih baik mati. Rizwan yang panic memintanya jangan mati. Lalu Madira mengusir Rizwan dan dia baru boleh kembali setelah mengatakan pada Presiden dan semua warga Amerika kalau yang bernama Khan bukan teroris dan Sam bukan teroris. Dia tidak bersalah..
Rizwan pun pergi menggunakan sepatu Sam dan melakukan perjalanan menemui Presiden.

Alur maju-mundur dalam film ini tidak begitu menganggu karena flash back ditempatkan di sela-sela perjalanan Rizwan. Banyak orang yang dia temui dari mulai sepasang muslim yang enggan sholat karena menyesuaikan diri dengan orang disekitarnya yang bukan muslim, pemilik penginapan yang diserang oleh berandalan karena dia orang India dan dikira muslim, hingga seorang anak Afrika-Amerika, Joel, yang tinggal di Wilhemina, Georgia. Dia tinggal di rumah Joel dan Mama Jenny. Adegan yang menyedihkan saat Rizwan bercerita tentang Sam di Gereja Wilhemina. Dia menceritakan apa adanya dan membuat orang-orang, yang juga kehilangan anak dan saudara akibat perang, meneteskan air mata. Rizwan tidak bisa berkata lagi. Dia tidak bisa menangis meskipun hatinya sangat sakit. Joel melengkapi suasana itu dengan menyanyikan lagu We Shall Overcome dan Rizwan bergumam lagu very Indianya Honge Kaamyaab yang pernah dinyanyikan dengan Madira. Semua orang di gereja berdiri dan bernyanyi untuk Rizwan. “We shall overcome, We shall overcome, We shall overcome, some day. Oh, deep in my heart, I do believe. We shall overcome, some day.”

Rizwan melanjutkan perjalanan, sebelumnya dia gagal menemui Presiden, sehingga kini di Los Angeles dia memprediksi jalur yang akan dilewati Presiden. Dia berdoa terlebih dahulu di mesjid, disana Faisal Rahman (Arif Zakaria) sedang berpidato dan menyerukan untuk melawan bangsa Yahudi. Rizwan menentangnya dan melemparkan kerikil sambil meneriakan kata setan pada Faisal Rahman. Rizwan menghubungi FBI dan mengatakan kalau disana ada teroris, tapi mereka tidal merespon. Saat Presiden Bush datang, dia menerobos kerumunan orang sambil meneriakan “My name is Khan and I am not a terrorist!” Seorang reporter merekam Rizwan dan sadar apa yang dikatakannya, namun orang disekitarnya mengira kalau dia teroris. Rizwan ditangkap dan diletakan di sel yang sewaktu-waktu suhunya berubah dari panas hingga dingin seperti dalam lemari es.

Reporter magang yang merekam Rizwan penasaran dengan pernyataannya dan dia yakin pria bernama Khan itu bukan teroris. Di medianya rekaman itu ditolak, sehingga dia meminta tolong pada Reporter senior untuk menayangkannya. Zakir dan Haseena diwawancarai, mereka menjawab pertanyaan mengenai alasan Khan melontarkan pertanyaan itu. Lalu hal itu menimbulkan empati dan dukungan dari berbagai pihak. Rizwan pun dibebaskan. Kepolisian melacak rekaman suara saat Rizwan menghubungi FBI dan menangkap Faisal Rahman.

Saat Rizwan akan keluar kantor polisi dia mencium parfum Madira. Dia berlari ke pintu belakang mengikuti aroma istrinya dan melihat Madira yang akan naik taksi. Dia merasa tenang saat melihatnya lagi, tapi belum bisa kembali karena belum menepati janjinya. Di toko barang elektronik dia melihat tayangan mengenai badai yang melanda Wilhemina, Georgia. Dia mengkhawatirkan Mama Jenny dan Joel, sehingga dia menunda perjalanannya. Banjir setengah badannya tidak membuatnya menyerah, semua rumah telah hancur dan telah banyak korban yang meninggal. Dia menuju gereja dan menemukan semua orang berkumpul disana dalam keadaan yang memprihatinkan. Untunglah Mama Jenny dan Joel selamat. Mama Jenny terkejut melihat Rizwan datang, dia menyuruhnya pergi karena disana sangat berbahaya. Tepat saat itu atap gereja roboh dan Rizwan memperbaiki semuanya. Hanya satu yang tak bisa Rizwan perbaiki, yaitu nyawa seseorang.

Reporter menemukan Rizwan di Georgia lalu menayangkan liputannya. Semua orang yang berempati pada Rizwan datang berbondong-bondong membawa bantuan untuk warga Wilhemina yang selama ini terpinggirkan karena berkulit hitam. Salah seorang senat berkulit hitam menonton tayangan itu dan kagum pada kegigihan dan ketulusan Rizwan. Di waktu yang sama, Reese memberitahu Madira tentang pelaku yang membunuh Sam. Reese dan siswa senior di sekolahnya ditahan polisi. Sarah (Katie A. Keane), ibu Reese dan juga sahabat Madira, meminta padanya untuk memaafkan Rizwan. Dia mengatakan “I’ve lost my husband, so don’t lose him.” Maka Madira pergi Georgia untuk menemuinya. Saat mereka bertemu, seorang pengikut Faisal Rahman datang dan menusukan pisau di perut Rizwan. Rizwan segera dirawat di Rumah Sakit, ditemani Madira. Saat Rizwan sadar, Madira menyuruhnya berhenti menemui Presiden. Tapi Rizwan mengatakan kalau dia selalu menepati janji.

Rizwan akhirnya dapat bertemu dengan presiden yang baru, seorang senat berkulit hitam yang mengaguminya, Barack Obama (Christopher B. Duncan). Dia berkata pada Rizwan, “Your name is Khan and you are not a terrorist”.

Film ini mengandung banyak pesan. Selain kegigihan seorang penderita Asperger’s syndrome dalam menepati janjinya. Jika ingat pesan ibunya Rizwan, di dunia ini hanya ada dua macam orang yaitu orang baik dan orang jahat, maka kita tinggal memilih akan menjadi orang macam apa? Dan tentunya setelah menonton film ini kita memilih menjadi orang baik yang disenangi dan dikagumi banyak orang seperti Khan. Kita harus selalu ingat bahwa tidak ada perbedaan antara agama, ras, suku, atau warna kulit karena kebaikan bisa kita lakukan pada siapa pun. Fim ini juga membuktikan kebenaran pernyataan ‘di balik kekurangan selalu ada kelebihan’, dan Rizwan Khan memiliki kelebihan otak yang encer dan hati yang tulus.

Karan Johar memberikan warna yang berbeda pada film ini, tiga film sebelumnya yaitu Kuch Kuch Hota Hai (1998), Kabhi Khushi Kabhie Gham (2001), Kabhi Alvida Naa Kehna (2006) dan film-film Bollywood lainnya selalu ada tarian dan lagu dengan latar yang berubah-ubah dari mulai taman berbunga, pepohonan, kolam, sampai basah-basahan. Tapi film ini sangat berbeda! Semua natural dan tidak ada perubahan latar dan music yang drastic. Ada saat Kajol dan Shahrukh Khan menari dengan pengamen sambil memberikan buah dan itu sangat singkat. Saat Kajol dan Shahrukh Khan berada dalam satu frame mereka lebih sering memberikan kesan yang lucu, mungkin karena Shahrukh Khan menjadi penderita Asperger’s syndrome atau karena Karan Johar yang mengurangi kesan romantic di film ini. Meskipun berbeda, film ini menjadi dapat dinikmati oleh siapa pun, tidak hanya pencinta Bollywood.

Pasangan Kajol dan Shahrukh Khan menjadi pasangangan yang fenomenal, selain di film ini mereka juga pernah berpasangan di film Dilwale Dulhania Le Jayenge (Dir. Aditya Chopra -1995), Kuch Kuch Hota Hai (Dir. Karan Johar - 1998), Kabhi Khushi Kabhie Gham (Dir. Karan Johar - 2001). Pasangan paling romantic ini telah merebut hati penonton sejak awal, acting mereka juga tidak diragukan lagi karena selalu maksimal dan natural. Peran Shahrukh Khan di film ini memang lebih sulit, namun Kajol dapat mengimbanginya sehingga Shahrukh Khan tidak terlihat terlalu aneh, malahan dia tampak luar biasa.

Meskipun film bertema autis bukan satu-satunya dimiliki My Name is Khan, namun film ini mengandung pesan yang sangat menyentuh. Film lainnya yang bertema autisme adalah Tom Hanks is Forrest Gump, Rainman, dan I am Sam. Ketiga film itu memiliki cirri khas sendiri dan pemerannya juga berhasil menampilkan perannya dengan sangat baik. Tom Hanks dalam film Forrest Gump menjadi orang ber IQ 75 yang memiliki kelebihan berlari sangat cepat melebihi orang normal. Dustin Hoffman dalam Rain Man merupakan sarjana autis yang cacat dan film ini terinspirasi dari kisah nyata Kim Peek. Sedangkan Sean Penn dalam I am Sam adalah seseorang yang berusia 40 tahun tapi sikapnya seperti anak kecil berusia 7 tahun. Dari ketiga peran tersebut hanya Shahrukh Khan lah yang tidak terlalu menonjolkan autismenya. Dia memang berbeda dari orang normal, tapi dia memiliki kehidupan normal. Lagi pula jalan cerita di film ini juga tidak terlalu kompleks. Meskipun mengangkat banyak isu seperti Asperger’s syndrome, bentok Hindu-Islam di Mumbai, Tragedi WTC, diskriminasi agama Islam di Amerika, ras Afrika-Amerika yang terpinggirkan, hingga pergantian presiden Amerika, namun inti cerita dari film ini sangat simple yaitu perjalanan seorang ayah yang menderita Asperger’s syndrome untuk menemui Presiden dan mengatakan bahwa yang bernama Khan bukanlah teroris. Sedangkan film serupa yang mengisahkan perjalan seorang autisme dalam film “Forrest Gump” tampak lebih kompleks karena memiliki banyak kisah dari mulai dia kecil, menjadi tentara, menjadi atlet tenis meja, lalu bertemu kembali dengan teman kecil yang dia cintai, lalu wanita itu hilang dan dia mencarinya dengan berlari mengelilingi Amerika Serikat selama lebih dari tiga setengah tahun, saat menemukannya wanita itu memiliki anaknya dan kemudian mati karena virus. Sulit memahami inti ceritanya dan hanya seperti sebuah perjalan yang dramatis.

Jika dilihat berdasarkan sinematografinya, film ini banyak memunculkan tempat-tempat baru yang fresh. Dari mulai Mumbai hingga San Francisco. Setting desa terpencil di Wilhemina juga sangat bagus dan kontras dengan kota besar San Francisco. Apalagi view di atas kota San Francisco yang ditunjukan Rizwan pada Mandira, sangat indah dan romantis!

Penggarapan film ini pastilah tidak mudah, ada beberapa hal kecil yang kurang diperhatikan sutradara muda sukses ini, seperti ketakutan Rizwan pada warna kuning. Saat Rizwan tertinggal bis dan tak memiliki uang lagi dia membuat papan bertuliskan “Repair Almost Anything” yang berwarna kuning, entah karena pencahayaannya yang salah atau benar-benar papan itu berwarna kuning, tapi Karan mungkin lupa kalau Rizvan akan histeris ketika melihat warna kuning. Dan saat Riwan beberapa kali berada diantara kerumunan orang yang sudah pasti bising, penonton akan sedikit heran dan bertanya apa dia menggunakan penutup telinga seperti saat naik kereta listrik dengan Mandira? Pada awalnya sedikit saja kebisingan dan warna kuning bisa membuat Rizwan lari terbirit-birit atau menutup kuping panic, tapi lama kelamaan dia seperti biasa menghadapi semua itu. Atau ketakutan-ketakutan itu hanya untuk menguatkan fakta kalau Rizwan penderita Asperger’s syndrome? Lalu satu hal lagi mengenai Rizwan yang tidak bisa meluapkan emosi. Ada saat dia meneteskan air mata di rumah sakit, saat dirawat akibat luka tusukan pengikut Faisal Rahman, padahal saat kematian ibunya dan Sam dia sama sekali tidak menangis. Memang saat itu Shahrukh Khan telah melewati banyak rintangan untuk menepati janjinya dan dia juga terharu karena Mandira akhirnya ada disisinya lagi, tapi seharusnya dia ingat kalau dia adalah Rizwan Khan. Kecuali kalau ternyata cinta bisa menyembuhkan Asperger’s syndrome, maka semua ketakutan dan hal yang tidak biasa bagi Rizwan boleh saja tidak dimunculkan lagi. Tapi selebihnya film ini sangat bagus dan tak heran jika mendapatkan banyak penghargaan!

 

TRILER

2 komentar: